Monday, February 18, 2013

Memeluk Majemuk

Andai semua bisa membaca cukup dengan kedipan mata.

Andai resah ini bersuara dan cemas ini dapat bergumam, aku tidak perlu mencari bahasa yang pas untuk berbicara denganmu.
Andai angin saja cukup membisikkan yang sedari tadi bergema di dinding hati. Atau terukir jawaban atas semua yang membelenggu kita di langit. Bisakah kamu temukan jawaban dari "apa," "kenapa," dan "mengapa" kita yang mungkin saja mengambang di genangan air?

Andai ombak dapat menenggelamkanmu dalam pemahamanku. Sentuhlah dasar laut maka kamu temukan serpihan aku terdampar, menunggu untuk menjadi apung di permukaan.

Andai kamu tahu aku lelah mencari bahasa yang pas untuk kita berbagi lagi. Semua perihal yang menyangkut bahasa, isyarat, dan pengertian sangat memuakkan. Oh, andai kamu tahu aku selalu gagal dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Menyerahlah pada keadaan bahwa kita sama-sama membutuhkan. Aku sirna tanpamu dan begitu adanya kamu.

Andai kamu, banyak kamu tahu.

Lalu di hadapan cermin besar ini, di hadapannya, ia memejamkan mata tanda setuju bahwa mereka kembali melebur dalam satu raga; bersama.

1 comment:

  1. hai, just wondering. pernah punya temen namanya Nadia Kalya? sekarang dimana dia? dan gimana kabarnya? sepertinya dia "lenyap" begitu saja. bahkan twitter nya sudah lama sekali tidak update. saya sampai cari di google :(
    tolong dijawab ya, dan tolong jangan tanya siapa saya. saya cuma teman lama yang ingin tahu kabar si nadia. thanks, nice post anyway :)

    ReplyDelete